Friday, 11 September 2015

Kenangan

Saat irama lagu itu berputaran, aku seakan bisu tiada bicara. Sesekali senyum menyulam wajah kusam ini. Wajah-wajah yang hadir di dalam mimpi malamku seakan menari-nari di bayangan mata. Dan kenangan yang terimbau pada pagi hari mengalirkan air mata pada pipi yang suci tiada berdosa.

Ada yang kulihat berlari. Lapar, dahaga, kehilangan punca, terpingga-pingga dan sesal dengan kehidupan menjadi warna wajah mereka . Jalan-jalan kenangan seakan beban yang menyukarkan setiap langkah yang di pijak. Cahaya yang diharap tidak pasti bila akan hadir. Dan di celah segala, suara anak kecil memohon ehsan manusia bergayutan dari satu sudut ke sudut yang berbeza.

Alam. Suatu bentuk kurniaan Tuhan yang maha Esa. Diciptakan manusia agar menjadi pelukis gambar dunia. Ada yang melakar alur keharmonian, namun ada juga yang menggali longkang kejahatan.

Diatas singgahsana berdiri jasad-jasad yang berakalkan perut dan nafsu. Dari tempat tinggi itu, arahan suci dialun-alun. Beberapa inci dari kaki, melutut para penjual agama. Menulis dan menghujah setiap dosa agar menjadi pahala. Bicaranya bicara syurga, sambil tangan meratah dosa.

Lalu aku tetap di sini. Menanti kau kekasih hati. Orang yang aku sayang, aku cinta, dan aku sanjungi. Kalian yang pernah baik padaku, pada dunia yang kalian cintai. Berjuang lah semampu mu, sesungguhnya kalian makhluk-makhluk yang tidak pernah lelah dari bermimpi. Mimpi sama seperti ku, satu dunia menyampaikan wahyu yang Esa. Dalam harmoni kita berselingkuh mesra.

No comments:

Post a Comment