Sambil melihat pokok pinang itu terhuyung-hayang digoyang oleh angin yang bergembus bersama guguran hujan, aku mengingati wajahnya. Di corong radio, suara Suhaimi Meor Hassan mengalunkan epilog cinta dari Bromley. Di hadapan ku masih teralun-alun asap kopi hitam yang mengalir dari bibir cawan.
Manisku, semalam aku melihat reaksi mu dari jauh sewaktu kau menerima hadiah itu. Hadiah dari seorang manusia yang aku tidak tahu asal juga tujuannya. Tapi wajahmu menjawab segala pertanyaan ku. Wajah yang aku gaul dengan kerendahan hati ku setelah kau mendirikan tiang ego secara harmoni.
Sekarang ini, satu demi satu cebisan tulisan yang penuh dengan perasaan aku bakar. Biarlah segalanya menjadi abu. Setelah cinta yang aku tanam, kau taburkan dengan racun hingga menjadi arang hitam. Pekat dengan kepedihan.
No comments:
Post a Comment